Apakah pandemi membuat seseorang mengalami kenaikan berat badan? Cari tahu jawabannya di sini!
Dikutip dari laporan “Indonesia Consumer Update: Understanding New Normal Consumer 2021” yang dilakukan Independence Research Operation Partner pada September 2021, seseorang cenderung mengalami kenaikan berat badan selama pandemi COVID-19.
Melihat dari laporan tersebut, 60% perempuan cenderung mengalami kenaikan berat badan daripada pria yang hanya 46% mengalami kenaikan berat badan. Selebihnya, 54% pria cenderung tidak mengalami kenaikan berat badan. *Penelitian ini dilakukan untuk semua responden dengan variable n=1.428.
Lantas, apa sih penyebab-penyebab seseorang mengalami kenaikan berat badan selama pandemi COVID-19? Yuk kita bahas!
1. Stres
Stres menjadi salah satu penyumbang terbesar kenaikan berat badan selama pandemi. Alasannya, berada di rumah terus-menerus membuat seseorang lebih sering merasa jenuh, bosan, dan tidak produktif.
Akibatnya, seesorang mencari jalan keluar sementara untuk mencoba sesuatu yang menyenangkan. Misalnya mengemil makanan manis, asin, berlemak, dan minuman-minuman bersoda atau manis seperti boba, kola, dan sejenisnya.
Selain itu, stres juga bisa muncul karena pemberitaan tentang COVID-19 atau rasa sedih karena terlalu lama tinggal di rumah, sehingga menyebabkan kebiasaan mengemil menjadi lebih sering.
Dapat dikatakan, kondisi stress dapat mengubah pola makan seseorang. Berat badan menjadi naik akibat seseorang tidak bisa mengontrol nafsu makan.
2. Kurang aktivitas fisik
Karena akses keluar rumah terbatas, hal ini membuat seseorang lebih banyak berada di rumah. Akibatnya, aktivitas fisik berkurang. Misalnya seperti jalan kaki ketika bepergian.
Menurut studi dari International Journal of Environmental Research and Public Health, berada di rumah dalam waktu lama selama pandemi COVID-19 dapat meningkatkan gaya hidup sedenter. Misalnya seperti lebih banyak duduk, berbaring, atau rebahan sambil scrolling layar ponsel, asupan makanan yang berlebihan, dan kurang paparan sinar matahari.
Gaya hidup sedenter seperti inilah dapat meningkatkan potensi memburuknya kondisi kesehatan kronis. Potensi terkena serangan jantung dan diabetes lebih mungkin terjadi.
3. Asupan produk makanan olahan
Kecenderungan seseorang mengonsumsi produk makanan olahan dengan umur simpan panjang juga tinggi selama pandemi COVID-19. Selain praktis, juga membuat seseorang tidak perlu repot-repot mengolah bahan makanan mentah hingga matang. Tinggal goreng, kukus, bakar, atau panggang, langsung makan.
Meski terlihat praktis, namun produk-produk makanan olahan lebih banyak mengandung kalori, gula, garam dan lemak. Kandungan-kandungan inilah yang dapat menyebabkan atau meningkatkan potensi kenaikan berat badan, bahkan obesitas.
Dirangkum dari Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia, seseorang yang mengalami kenaikan berat badan secara drastis atau obesitas cenderung lebih mudah terkena COVID-19. Sebabnya, obesitas, diabetes, dan hipertensi menjadi penyakit penyerta atau komorbid yang meningkatkan risiko kematian lebih tinggi akibat COVID-19.
4. Waktu tidur tidak teratur
Selama masa pembatasan sosial dan karantina mandiri, seseorang akan mengalami stres lebih tinggi. Akibatnya, seseorang akan memilih coping mechanism yang dapat meredakan rasa stress dan memicu kesenangan. Misalnya menonton film, bermain game, mendengarkan lagu, mengemil, atau sekedar melamun (overthinking) hingga larut malam.
Hal ini menyebabkan waktu tidur tidak teratur. Adanya pola hidup yang tidak sehat seperti begadang selama pandemi justru mempercepat kenaikan berat badan.
Kurang tidur juga menyebabkan rasa kantuk di pagi dan siang hari. Inilah yang membuat nafsu makan cenderung meningkat agar tetap fokus dan melek. Tidak hanya itu, keinginan untuk konsumsi makanan asin dan tinggi kalori juga lebih sering.
5. Konsumsi alkohol
Alkohol memang memberikan sensasi ringan dan nyaman bagi peminumnya. Namun selama pandemi COVID-19, seseorang minum alkohol agar merasa nyaman dan mengusir rasa bosan, bukan karena kebutuhan tertentu.
Pemicunya adalah stress, kecemasan, overthinking, dan hal lainnya. Sehingga, seseorang cenderung lebih banyak mengonsumsi alkohol.
Perlu diketahui, alkohol termasuk minuman berkalori tinggi yang mengandung gula dalam bentuk maltose atau maltodekstrin. Kandungan ini dapat menimbun lemak di perut, meningkatkan kadar kortisol, dan merusak kelenjar hormonal.
Itulah 5 penyebab kenaikan berat badan selama pandemic COVID-19. Pastikan Anda selalu menjaga kesehatan, tetap produktif, dan berada di mode sini-kini (mindful).